Senin, 11 Juni 2012

Tikus kota Tikus Desa

Aesop adalah seorang pendongeng (storyteller) yang hidup di Yunani sekitar 600 tahun sebelum Masehi. Yang istimewa dari Aesop adalah, ia menuangkan kebijakannya atau kadang kritikannya dalam bentuk cerita binatang atau fabel.
Pada suatu hari, tikus kota berkunjung ke sepupunya, tikus desa. Mereka sudah lama tidak jumpa.
Tikus desa gembira bukan main, dikeluarkannya semua makanan yang ada untuk tamunya. Ada remah jagung, singkong dan sedikit padi-padian.


“Ayo, silakan makan saudaraku, “ kata tikus desa dengan ramah.

Tikus kota memandang semua remah-remah makanan desa itu dengan enggan.

Tikus desa bertanya: “Kenapa? Kau tidak suka?”

Tikus kota menjawab. “Sudah lama aku tidak makan .. makanan-makanan mentah dan keras ini!” “Gigiku sakit karenanya,” lanjut Tikus kota

“Tapi ini makanan yang dulu sama-sama kita makan! Lihat, butir-butir padi ini begitu bernas, dan gurih!” berkata begitu Tikus desa lalu mengunyah beberapa butir padi dengan lezatnya.

“Yah, itu dulu, sebelum aku tahu makanan-makanan kota yang serba empuk dan lezat!” kata tikus kota, tanpa bermaksud sombong.

“Makanan kota yang empuk dan lezat? Seperti apakah itu,” tanya Tikus desa penasaran. Akhirnya Tikus kota mengajak saudaraya ke kota.

“Akan kutunjukkan makanan-makanan mewah yang empuk dan lezat!” ajak tikus kota.

Dua Tikus berjalan beriringan menuju kota. Perjalanan panjang dan berliku, melewati sawah dan ladang petani.

Hari telah malam ketika keduanya sampai kota. Mereka langsung ke rumah Tikus kota, tikus desa langsung diajak ke dapur. Disitu banyak bertebaran makanan serba lezat bekas pesta semalam. Bukan pestanya Tikus kota, melainkan pestanya manusia yang empunya rumah itu.

“Lihat, ini ada roti tart yang lezat… Itu ada jelly.. ada keju.. daging ayam.. semuanya serba empuk dan lezat. Kamu boleh makan apa saja…” kata Tikus kota.

Mulut Tikus desa berkecap-kecap membayangkan lezatnya semua makanan itu. Tiba-tiba terdengar suara menyalak diluar.  Tikus desa tersentak kaget.  “Suara apa itu?” tanyanya ketakutan.

“Ah, biasa, itu suara anjing penjaga,” jawab tikus kota.

“Anjing penjaga??” tanya tikus desa ketakutan.

Tiba-tiba pintu terkuak, dan seekor anjing besar menyergap masuk..“Lariiiiii!” kata tikus kota. Keduanya lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Setelah selamat dari anjing penjaga itu, tikus desa buru-buru berpamitan.

“Kenapa buru-buru, sepupuku? kau bahkan belum sempat mencicipi makanan yang empuk dan lezat itu!” kata tikus kota.

“Terima kasih, saudaraku. Aku lebih senang makan biji-bijian yang keras di desa, dari pada hidup mewah di kota dengan anjing yang mengerikan itu…”

Tikus desa pun pulang ke desanya kembali, memilih hidup apa adanya tanpa ketakutan.
sumber erabaru.net 
(alx)
Refleksi
 
Seringkali kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita cenderung berpura pura dan mengingkari keadaan yang sebenarnya. Jika kita tidak merasa damai ketika keadaan kita tidak lebih baik dari orang lain ada kemungkinan kita terkena penyakit iri hati dan kurang bersyukur. 
Menerima keadaan sebenarnya dan jujur dengan keadaan diri kita akan membuat diri lebih lega dan bebas. 
 
Dapatkan Ebook Gratis, Pelatihan Karakter Moral di www.karaktermoral.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar