Minggu, 06 April 2014

Hadapi Hidup dengan Berani!



Anak saya yang sulung memukul adiknya hingga sebabkan kepalanya benjol, tentu saja adiknya menangis  histeris. Saya segera memanggilnya dan bertanya,”mana tangan yang salah? kemudian ia menjulurkan tangannya dengan menunduk dan wajah memelas,  saya pun  memukul tangannya!
Sebelum umurnya 5 tahun,  ketika  lakukan kesalahan, dia sudah langsung menangis, kawatir karena dihukum. Namun berangsur angsur mulai berubah lebih  berani. Tidak menangis lagi, tangan diletakkan di belakang tubuhnya, atau langsung memberi pembelaan dengan kata kata “aku juga salah”. Bahkan beberapa waktu terakhir,  dia cepat cepat akui kesalahannya sambil bertanya “aku dihukum apa, papa?”

Saya merenung,  apakah saya sendiri sudah hadapi hidup dengan berani? Ternyata terkadang saya temukan saat saat saya begitu pengecut. Tidak berani akui dan menghindari kenyataan pahit.

Coba lihat begitu banyak permasalahan yang kita hadapi sebagai orang dewasa. Mulai dari memenuhi kebutuhan rumah tangga, menghadapi persoalan relasi keluarga dan rekan kerja sampai persoalan rumitnya mengubah diri agar jadi lebih baik. Dan ketika harus menghadapi tantangan tersebut ada kecenderungan menghindar,  mencari selamat dan mudahnya.
Seseorang ketika diperhadapkan dengan debt collector karena mulai nunggak pembayarannya, cenderung sembunyi. Seseorang ketika berkonflik baik dengan pasangan atau rekan kerja tidak mau segera selesaikan persoalan. Seseorang yang melakukan kesalahan cenderung salahkan orang lain dan menutupi kesalahannya. Seseorang yang dipanggil untuk melakukan sesuatu tanggung jawab tapi enggan, pura pura tidak tahu dan tidak mau terlibat. Kita masih bisa sebutkan banyak contoh ril dimana kita dituntut untuk berani hadapi hidup.... tapi toh kita memilih menghindar ...
Orang Berani adalah Orang yang sadari ketakutannya  dan rasional
Saya percaya orang berani yang sesungguhnya sadar, bahwa ia tengah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan adrenalinnya berpacu dengan cepat serta sadar konsekuensi yang akan menimpanya. Dia rasional, dia sadar apa yang akan terjadi dengan keputusannya dan tetap ia memutuskan.
Sebaliknya orang yang nampak  berani tapi tidak sadari dampak dari apa yang akan terjadi, cenderung berpikiran jangka pendek dan emosional, itu adalah nekat.
Dengan pengertian ini maka tidak mudah untuk mengatakan seseorang itu betul berani atau betul penakut. Jika seseorang diperhadapkan dengan situasi harus memilih antara hidup dan mati, mana prioritas yang paling tinggi? Ternyata setiap orang punya kacamata  masing masing. Apa yang dikatakan prioritas dan hidup mati seseorang ternyata berbeda satu sama lain. Dan ini yang menentukan kedewasaan seseorang.
Ada orang begitu beringas ketika harga dirinya tersinggung, membunuhpun ia sanggup? Bagi kaca matanya nekat itu berani. Berbeda dengan keberanian seorang yang tadinya berstatus sosial tinggi dan terhormat, harus jadi tukang ojek demi susu anaknya. Konsekuensi yang diterimanya adalah malu dan bekerja tidak sesuai dengan statusnya, tapi ia tahu jika tidak dilakukan maka anaknya mati kelaparan. Ia rasional.
Keberanian muncul dari kebijaksanaan
Apa itu keberanian? keberanian adalah kondisi mental yang tetap tenang ketika menghadapi situasi menegangkan (cenderung dihindari) dan konsekuensi yang cenderung buruk . 
Pernahkah Anda bertanya mengapa seseorang menjadi seorang yang pemberani? Keberanian sejatinya muncul dari pengertian dari dalam diri. Seseorang yang biasa berefleksi akan mudah memahami hal ini. Karena keberanian itu muncul dari dalam diri. Keberanian muncul dari pergumulan diri mencari sesuatu yang paling benar menurut diri kita.
Yesus mengapa berani hadapi maut, meregang nyawa, menerima hinaan dan memanggul salib yang luar biasa berat? Sampai sampai ia mengeluarkan airmata dan keringat darah? Bukankah Ia sebagai manusia ketakutan, bahkan dalam doaNya ia berkata “bolehkah cawan ini berlalu daripadaKu . Namun karena ini adalah jalan satu satunya untuk menebus kesalahan umat manusia dan agar manusia selamat, maka ia menerima semua penderitaan itu  (inilah kebijaksanaan).
Juga Budha Syakamuni, meninggalkan kemewahan hidup sebagai anak raja dan hidup mengembara, meninggalkan semua kenikmatan yang bisa dinikmati.  Pergumulan batinnya membuat ia memilih jalan penderitaan untuk mendapatkan kebenaran sejati. Ia pun menemukan dharma (kebenaran), dan inilah yang diwariksan bagi umat manusia.
Maka keputusan besar ada resiko besar ada juga hasil besar. Sebaliknya keputusan kecil, resiko kecil dan hasil juga kecil. Yesus dan Syakamuni melakukan keputusan yang luar besar di jamannya. Mereka pastilah dikatakan gila dan abnormal pada jaman itu mungkin juga oleh kita di jaman ini. Tapi lihatlah mereka menorehkan sejarah, nama mereka dimuliakan hingga kini.
Melahirkan Kebijaksanaan berarti menumbuhkan kekuatan
Bagaimana saya hidup? Apakah saya termasuk orang yang hadapi hidup dengan berani? Sebetulnya hal ini mudah kita ukur, lihat saja bagaimana kita jalani hidup selama ini. Ukurlah  dengan karakter  alam semesta untuk menilainya. Apakah kita orang yang sejati (Jujur)? Apakah kita orang baik (mementingkan orang lain dari diri kita) dan apakah kita orang sabar (mampu menanggung penderitaan).
 
Jika kita mengatakan perilaku hidup kita sudah selaras dengan karakter alam semesta,  Jujur, baik dan sabar, kemungkinan kita adalah orang orang yang memiliki kebijaksanaan. Dan dengan kebijaksaan itu kita punya kekuatan untuk hadapi hidup. Justru sebaliknya jika tidak punya kebijaksanaan maka kita akan linglung, gamang, takut dan penuh kekawatiran hadapi hidup. Persoalan kecil saja membuat kita tidak bisa makan dan tidur dengan wajar.
Maka tidak heran orang yang betul betul kuat nampak keras kepala. Mereka berprinsip, memiliki landasan yang kokoh untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Mahatma Gandhi, tokoh dari India, orangnya kecil dan perawakannya sangat sederhana, tapi mampu mengusir penjajahan Ingris dari tanah India. Mengapa? karena ia punya prinsip. Ia melihat dan menyadari ada hukum yang bekerja walau tidak kasat mata. Ada hal yang tidak terlihat yang lebih kuat dari yang terlihat, yang tidak terlihat ternyata mengendalikan yang terlihat.

Selamat menempuh hidup dengan berani .......
Semoga Anda dan saya menjadi orang orang yang tidak mundur dari penempaan kehidupan yang semakin ruwet ini ....

Salam hangat ... Candratua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar