Jumat, 22 Juni 2018

Cerita Moral : Pemberontak ; KaMo Homeschooling Community ; WA 0852 68506155



Pemberontak
“Ipunggggg!! Berhenti kau!. Kupingmu kamu taruh mana sih? Kamu tadi saya suruh apa? Hah! Saya menyuruhmu untuk ambilkan bola basket bukan bola voli. Cepat ambil dan jangan salah lagi!” Teriakan Pak Dadang membuat kami terkejut dan sejenak menghentikan seluruh aktivitas kami.
Ipung memang anak yang sulit sekali mendengarkan. Siapa saja sepertinya ingin ia lawan dan lalaikan. Ia terbiasa masuk sekolah dengan rambut acak-acakan dan pakaian tidak rapi. Ia adalah langganan anak yang biasa terlambat. Ia biasa dihukum karena sering kali melanggar aturan yang ada. Membuang sampah, tidak mengerjakan tugas pada waktunya, ketinggalan topi untuk upacara. Dan banyak hal lain lagi yang dia lakukan sehingga ia nampak sangat berbeda dengan anak lainnya. 

Aku sempat berpikir apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya. Kenapa kok dia begitu berbeda dengan teman lainnya. Ia cukup disegani karena badannya yang besar dan terkadang suka mengancam jika keinginannya dihalangi. Beberapa kali ia terlibat perkelahian dengan anak yang lebih besar. Beruntung tidak terjadi apa-apa. Teguran paling keras yang ia dapat adalah orang tuanya dipanggil hingga tiga kali.
Padahal Ipung termasuk anak orang kaya dan sebetulnya  pribadi yang menyenangkan. Tapi entah kenapa ada saat-saat yang cukup mengerikan jika berada di dekatnya. Rasa was-was dan takut jika tiba-tiba dia meledak dan bertindak semaunya sendiri. Pernah satu waktu ketika ia tidak mengerjakan tugas, ia memaksa Anton untuk memperlihatkan tugasnya. Anton sempat menolak tapi ia mengancam, akhirnya Anton pasrah dan membiarkan tugasnya disalin oleh Ipung.
Sepengetahuanku Ipung adalah anak tunggal dan dia biasa mendapatkan apa yang ia mau. Sepertinya apa pun keinginannya selalu dipenuhi orangtuanya. Kadang-kadang ia membuat sebagian dari kami iri. Betapa beruntungnya dirinya. Tapi aneh, walaupun semua keinginannya terkabulkan ia tetap saja tidak puas dengan dirinya.
Sebetulnya Ipung juga adalah anak pindahan dari sekolah lain. ini adalah sekolah ketiga yang ia masuki. Wah, padahal kami baru kelas IV, berarti hampir setiap tahun ia pindah sekolah. Kenapa bisa demikian? Segudang pertanyaan ada di benak teman-temannya, tetapi tidak ada jawaban pasti yang diapatkan. Aku  mendekatinya dan berusaha menjadi teman baiknya.
Tak disangka-sangka ketika siang hari menjelang pulang sekolah, Ipung mengajakku ke rumahnya. “Bin, lu datang ke rumah gua hari ini, mau nggak? Gua punya game baru jadi kita bisa main bareng.” Aku putuskan untuk main ke rumahnya, kebetulan tugas-tugas sudah selesai aku kerjakan. “Tapi gua telpon nyokap gue dulu ya, Pung,” jawabku. “Walah nggak usah, Bin, langsung cabut aja. Mobil gua udah nunggu tuh. Bokap nyokap gua nggak pernah pusing gua mau pulang jam berapa. Santai ajah.”  Aku sempat gugup tidak tahu harus bagaimana, tapi ajakan Ipung begitu menggiurkan. Beberapa teman mengatakan di rumah Ipung ada kolam renang. Aku jadi pingin tahu kehebatan rumahnya.
Benar saja, begitu sampai aku di rumahnya aku lihat  sebuah rumah yang  besar dan indah. “Ini rumah lu, Pung?? Keren banget!” Kataku kagum. “ Walah biasa aja lagi,” kata Ipung bangga. Kemudian kami langsung menuju kamar. Yang membuat aku kaget adalah sikapnya. “Siapin minum jeruk dua dan makan siang. Langsung taruh di kamarku yah!” Ia memberi perintah pada pembantu di rumahnya dengan semena-mena. Aku kaget dengan caranya, belum lagi cara ia melepas sepatu, meletakkan tas dan melemparkan baju seragamnya. Semua ia lakukan semaunya dan sembarangan. Sempat terlintas di pikiranku seandainya ia bersikap begini di rumahku, pasti mamaku akan menghajarnya sampai habis. Ia akan sangat menyesali perbuatannya  jika mamaku adalah mama sobatku itu.
Aku berusaha menikmati waktu bermain dengannya. Awal-awal sih sangat menyenangkan tapi lama-lama aku menjadi muak. Ia begitu egois dan ingin menang sendiri. Masa aku disuruh kalah padahal aku menang darinya. Setiap ia mau kalah ia mematikan game dan mengulanginya dari awal. Menyebalkan sekali  orang ini. Pantes tidak ada seorangpun bisa tahan bila berada di dekatnya. Beruntung jam sudah menunjukkan angka empat sore. Aku segera pamit. Belum lagi selesai aku minta ijin pulang dia sudah marah dan memaki-maki diriku. Ia menyebutku sebgai anak mami, nggak asyik, dan tidak setia kawan. Dan banyak lagi kata-kata pahit yang terdengar di telingaku. Tapi aku tidak peduli, kaarena aku sudah janji pada ibu untuk tiba di rumah  pukul 5 sore.
Esok paginya Ipung terlambat lagi. Ia dapat hukuman untuk menyapu lapangan. Ia menolak menyapu dan melemparkan sapu itu ke lapangan. Kemudian ia pergi ke kantin dan makan di kantin. Pak Dadang yang kebetulan piket tidak sabar lagi menghadapi prilaku Ipung segera menariknya ke ruang kepala sekolah. Tapi Ipung meronta bahkan sempat memukul perut Pak Dadang sehingga tangannya terlepas. Pak Dadang semakin geram, “Anak kurang ajar, tidak bisa diatur.” Pak Dadang  memburunya lalu terpaksa menyeret Ipung dengan paksa.
Kejadian tadi berlangsung singkat. Aku dan beberapa teman sempat terkejut namun semua berjalan seperti biasa lagi. Ipung tidak masuk kelas - dipulangkan. Terakhir kami dengar kabar ia dipindahkan orangtuanya ke sekolah lain.
 
Cermin Kebijaksanaan
Ipung adalah sosok seorang anak yang tidak bisa diatur. Ia adalah anak tunggal dari ayah dan ibu yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ipung dibesarkan oleh para pembantu dan tidak ada yang mengajarkan padanya tentang aturan-aturan hidup, khususnya kedisiplinan. Ia terbiasa melakukan segala sesuatunya sesukanya. Karena merasa orang kaya ia berpikir semuanya mudah dan sudah ada. Ia tidak belajar bahwa apa yang ia lakukan sekarang menentukan apa yang terjadi dimasa mendatang. Ia menjadi pribadi yang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia akhirnya ditinggalkan teman-teman.
Berbeda dengan Ipung, Binsar adalah anak yang tahu waktu. Bahkan walau pun tengah asik melakukan sesuatu, ia tahu kapan harus berhenti dan melakukan hal lainnya yang benar. Ia memutuskan pulang dan tidak mau membuat ibunya kawatir.  Seorang yang berdisiplin memiliki ketaatan. Binsar taat pada ibunya sehingga akhirnya seorang yang memiliki kedisiplinan diri, memiliki kemampuan mengendalikan diri,  dan lebih mampu mengarahkan diri kepada hal-hal positif lainnya.
Tantangan : Apakah kalian mampu menjadi anak yang berdisiplin?
Cerita Moral : Pemberontak ; KaMo Homeschooling Community WA 0852 68506155 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar