Kamis, 10 April 2014

Keberanian Seorang Wanita "Ti Ying"

Di awal era Dinasti Han (206 SM- 220 M) di Tiongkok, berlaku  undang-undang “Lima Hukuman”, di mana empat di antaranya merupakan hukuman fisik yang keras. Sistem pidana ini, pernah diberlakukan secara luas selama pemerintahan dinasti sebelumnya, Dinasti Qin (221-206 SM), dan masih dipertahankan pada pemerintahan dinasti berikutnya.

Keempat bentuk hukuman ini akan meninggalkan luka fisik yang pada umumnya dianggap oleh pejabat pemerintah sebagai hukuman yang pantas bagi pelaku kriminal. Hukuman itu meliputi amputasi hidung, telinga, anggota badan lainnya, atau wajah yang ditato untuk menunjukkan hukuman.

Namun, karena keberanian Ti Ying (緹縈), seorang gadis remaja yang pemberani, praktek brutal dan tidak manusiawi ini berhasil dihapuskan di bawah pemerintahan Kaisar Wen Han (漢皇帝).
Ti Ying adalah anak bungsu dari lima putri seorang dokter bernama Chunyu Yi. Pada awalnya, sang ayah bekerja sebagai pejabat yang berpangkat rendah, tetapi kemudian menjadi seorang dokter berpangkat tinggi setelah berhasil menyelesaikan studinya pada seorang dokter terkenal.

Daripada mengabdikan dirinya untuk mengobati kaum bangsawan, Chun Yi lebih menyukai berkeliling pedesaan untuk menawarkan jasanya kepada masyarakat umum. Ia mendapat reputasi yang luar biasa atas keterampilan medisnya, dan mulai dicari oleh banyak orang.

Chunyu Yi mengambil pendekatan yang sangat realistis dan ilmiah dalam pengobatannya, serta berperilaku jujur atas kesalahannya sendiri dan kegagalan dalam diagnosis maupun perawatan.

Keberanian dan Rasa Bakti
Namun, ketika Chun Yi gagal menyelamatkan nyawa istri seorang hartawan, seorang wanita yang sudah sakit parah, membuat sang suami menjadi sangat murka, dan mulai melancarkan tuduhan bahwa pengobatan Chunyu Yi yang menjadi penyebab kematian istrinya.

Pria itu orang yang sangat berpengaruh, dan segera saja ayah Ti Ying didakwa tanpa melalui penyelidikan terlebih dulu. Lalu Chunyu Yi dikirim ke ibukota untuk menerima hukuman fisik yang sesuai untuknya.

Ketika ayah Ti Ying memandangi putri-putrinya yang sedang menangis meratapi kepergiannya ke ibukota, dia hanya bisa berkeluh kesah: “Aku akan dikirim ke ibukota untuk dihukum, di mana para wanita tidak bisa mendampingi, dan saya memiliki lima orang putri. Kalau saja aku punya seorang putra!”

Ti Ying mendengar keluhan ini, dan ia membulatkan tekad untuk entah bagaimana caranya menyelamatkan sang ayah. Dia mengikuti sang ayah melakukan perjalanan yang melelahkan ke ibukota, bertahan dari rasa lapar dan haus.

Sesampai di ibukota, ia memohon kepada seorang ahli tulis untuk menyusun sebuah petisi baginya, yang ditujukan kepada Kaisar Wen. Ti Ying menyerahkan sendiri surat itu kepada penjaga istana untuk diberikan kepada kaisar.

Ketika kaisar mendengar ada petisi yang dikirim oleh seorang gadis muda yang sangat berani, si kaisar menjadi tertarik untuk mendengarnya.

Dalam surat petisinya, Ti Ying menyatakan: “Sebagai seorang pejabat, ayah saya setia pada tugasnya, dan sebagai dokter ia menyelamatkan begitu banyak kehidupan. Dia telah dipuji oleh orang-orang karena integritasnya. Tapi kini dia menghadapi hukuman fisik yang berat akibat tuduhan palsu.”

“Sekali seorang pria dieksekusi, dia tidak bisa hidup kembali. Setelah seorang pria dimutilasi, bahkan jika ia dikemudian hari terbukti tidak bersalah, dia akan menderita cacat seumur hidupnya, dan tidak ada cara untuk membalikkan penderitaan yang telah ia alami. Bahkan sekalipun ia ingin memulai sesuatu yang baru, dia tidak akan mampu melakukannya.”

“Saya mendengar cerita tentang bagaimana seorang putra dapat menebus rasa bersalah seorang ayah,” lanjutnya. “Sebagai seorang putri, saya bersedia menebus dosa ayah saya dengan menjadi budak Paduka selama sisa hidup saya. Saya mohon Paduka untuk membebaskannya dari hukuman ini, dan dengan demikian ia akan memiliki kesempatan untuk membuat awal yang baru.”

Petisi Ti Ying tidak hanya meminta pengampunan bagi ayahnya tetapi juga menunjukkan ketidakadilan dan kekejaman hukuman fisik, dan bagaimana hal itu tidak memberikan kesempatan bagi terpidana untuk merehabilitasi. Alasan yang disampaikan Ti Ying begitu baik sehingga pejabat pengadilan terkesan dengan kefasihannya.

Kaisar Wen juga sangat tersentuh oleh permohonan Ti Ying. Kaisar kagum dengan keberanian gadis muda ini, karena bersedia menanggung penderitaan untuk mendampingi ayahnya ke ibukota, dan berkomitmen hidup sebagai budak sebagai pertukaran bagi kesejahteraan orang lain.

Kaisar tidak hanya menolak menerima pertukaran yang ditawarkan Ti Ying, namun ia juga memaafkan ayah Ti Ying, dan mengambil perkataan gadis muda itu untuk menghapus hukuman fisik yang kejam.

Kisah keberanian Ti Ying dan rasa baktinya menjadi terkenal di Tiongkok, sehingga mendorong seorang sejarawan berkomentar, “Banyak putra yang berguna, tetapi kalau saja aku punya putri seperti Ti Ying!” (ajg/epochtimes/yant) era baru.net
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar